Majelis Al-Hidayah: Al-Qur'an dan Hadist

Bismillahirrahmanirrahiim

Mempelajari Al Qur'an dan Al Hadist

Marilah, terlebih dahulu kita baca Ummul-Qur'an Al Fatihah

News

WAJIB BERPEGANG TEGUH DENGAN AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH

Posted by Rido R Sumantri on August 13, 2014 at 11:10 PM

Pemahaman Para Sahabat Adalah Hujjah

Di Zaman Modern, zaman yang membingungkan, banyak berbagai tawaran kepada manusia untuk sekedar menikmati hidup menurut sangka-sangka mereka, banyak manusia menggurui orang lain bagaimana memandang kehidupan dan mengajak mereka untuk menempuh jalan hidup menurut apa yang mereka pahami tanpa melihat kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Pemahaman Para Sahabat Adalah Hujjah. Dalam memahami Islam kita harus kembali kepada al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih. Yaitu dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan para ulama setelahnya.

Sebab jika pemahaman Islam dikembalikan kepada pemikiran masing-masing niscaya akan rusak agama ini.

Suatu contoh :

Ada 10 orang yang mempunyai pemahaman Islam yang berbeda niscaya akan ada 10 pemahaman juga bagaimana jika ada 100 orang? Berapa pemahaman yang akan timbul?

Maka sudah seharusnya dalam beragama ini kita kembalikan lagi kepada ahlinya yaitu orang-orang yang telah ALLOH ridha’i dalam segala aspek yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

PEMAHAMAN PARA SAHABAT ADALAH HUJJAH.

Al-Qur’an dan hadits shahih tidak mungkin bertentangan selama-lamanya, sebab hadits atau sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah pentafsir atau sebagai penjelas dari al-Qur’an.

Rasululloh shallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur’an dan (sesuatu) yang serupa dengannya yakni As-Sunnah (hadits).”

(HR. Abu Dawud no.4604 dan Ahmad dalam al-Musnad IV/130, dengan sanad yang shahih)

Dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, ia berkata :

Rasululloh shallaloohu ‘alaihi wa ssalam bersabda,

“Aku tinggalkan ditengah-tengah kalian dua perkara. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnahku (hadits).”

(HR. Malik, derajat hadits ini hasan)

Mustahil kita beragama hanya menggunakan al-Qur’an tanpa hadits Nabi shallalloohu ‘alaihi wa sallam. Tanpa hadits kita tidak faham akan agama ini, 90% ajaran Islam tanpa hadits maka akan hilang.

Bagaimana kita menemukan tata-cara adzan? Bacaan dan tata-cara shalat? Shaum? Zakat? Dan Haji kalo bukan dari hadits Nabi shallalloohu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama menafsirkan firman ALLOH ‘azza wa jalla :

“…dan supaya mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (al-Qur’an) dan Al-Hikmah (as-sunnah).” (QS.Al BAqarah:129)

Al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah As-Sunnah seperti diterangkan oleh Imam As-Syafi`i rahimahullohu ta’ala beliau berkata,

“Setiap kata al-hikmah dalam Al-Qur’an yang dimaksud adalah As-Sunnah (hadits).”

Demikian pula yang ditafsirkan oleh para ulama yang lain.

(Al-Madkhal Li Dirasah Al Aqidah Al-Islamiyah hal. 24)

Bila kita menemukan suatu keganjilan maka bukan al-Qur’an dan hadits yang keliru akan tetapi akal kita yang terbatas salah dalam memahaminya.

Al-Qur’an dan hadits adalah haqqun, akan tetapi orang yang membawakan ayat al-Qur’an dan hadits belum tentu haq, bila salah dalam memahami ayat al-Qur’an dan hadits.

Lihat seperti Khawarij yang mengkafirkan Khalifah Ali radhiyallohu ‘anhu dengan mengatakan,

“innal hukmu illalillah”

mereka yakni Khawarij mengkafirkan Ali radhiyallohu ‘anhu dengan ayat al-Qur’an yang tidak berhukum selain hukum ALLOH lihat surat Al-Ma’idah:44.

Ali radhiyallohu ‘anhu membalas ucapan mereka beliau berkata,

“Kalimatul haq yuridu bihil bathil.”

(Kalimat yang benar, tetapi dipakai untuk membenarkan kebathilan).

Itulah sebagian contoh dari salah memahami ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallalloohu ‘alaihi wa sallam.

Lantas timbul pertanyaan diantara kita :

Lalu kita harus mengikuti pemahaman siapa dalam memahami ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallalloohu ‘alaihi wa sallam?

Jawabannya tentu mengikuti pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’im sebab merekalah yang lebih mengetahui al-Qur’an dan hadits daripada kita karena al-Qur’an dan hadits diturunkan pada zaman mereka, merekalah yang lebih ‘alim, mempunyai semangat tinggi dalam beribadah kepada ALLOH Rabbul ‘alamin, menghidupkan sunnah-sunnah Rasululloh shallalloohu ‘alaihi wa sallam serta ALLOH ridha’ kepada mereka.

ALLOH subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya ALLOH telah ridha’ terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, maka ALLOH mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS.Al-Fath:18.)

dan

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada ALLOH.” (QS.Ali Imran:110)

Karena merekalah sebaik-baik umat, merekalah umat terbaik yang ALLOH turunkan untuk menemani nabi yang mulia Muhammad shallalloohu ‘alaihi wa sallam.

Rasululloh shallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).”

dalam lafazh lain disebutkan bahwa,

“Sebaik-baik zaman adalah zamanku (zaman para sahabat), kemudian yang setelahnya (zaman tabi’in), kemudian yang setelahnya (zaman tabi’ut tabi’in).”

(HR. Bukhari no. 6429 dan Muslim no. 2533 hadits ini adalah Mutawatir, sebagaimana telah ditegaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah I/12 dan Muanawiy dalam Faidhul Qadir III/478 serta disetujui oleh Al-Kataaniy dalam kitab Nadzmul Mutanatsir hal.127)

Itulah generasi terbaik yang diistilahkan oleh ALLOH jalla wa ‘ala sebagai As-Sabiqunal Awwalun, yang ALLOH berikan legitimasi syar’i kepada mereka.

Bahkan ALLOH subhanahu wa ta’ala menyuruh kepada kaum muslimin untuk mengikuti cara beragama seperti cara beragama para sahabat radhiyallohu ‘anhum ajma’in.

ALLOH tabaroka wa ta’ala berfirman :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, ALLOH ridha’ kepada mereka dan mereka pun ridha’ kepada ALLOH dan ALLOH menyediakan bagi mereka surga-surga.” (QS. At-Taubah:100)

Perhatikan baik-baik firman ALLOH subhanahu wa ta’ala diatas.

ALLOH memerintahkan kita kaum muslimin untuk mengikuti cara beragama seperti cara beragama para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in dengan firmannya :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI MEREKA DENGAN BAIK, ALLOH ridha’ kepada mereka dan mereka pun ridha’ kepada ALLOH dan ALLOH menyediakan bagi mereka surga-surga.” (QS.At-Taubah:100)

Mengikuti apa?

Tentu mengikuti pemahaman dalam memahami agama Islam, akhlak, muamalah dll.

Itulah setegas-tegas dalil bahwa pemahaman para sahabat adalah hujjah atau dalil dalam beragama.

ALLOH jalla wa ‘ala berfirman :

“Barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalan-jalan mukminin (para sahabat ridhwanulloh ‘alaihim) maka Kami biarkan dia bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ke dalam Jahannam dan Jahannam itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali.” (QS.An-Nisa’:115)

Perhatikanlah ayat diatas baik-baik wahai kaum yang berfikir, ayat itu turun pada sahabat.

ALLOH subhanahu wa ta’ala mengancam dengan Jahannam bagi siapa saja yang menyelisihi jalan para sahabat.

Apakah itu belum jelas kebenaran akan mengikuti jalan para sahabat dalam beragama?

Coba kalian perhatikan hadits-hadits dibawah ini:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

Rasululloh shallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, akan terpecah umatku ini menjadi 73 golongan. Semuanya masuk Neraka kecuali satu golongan.”

Ada sahabat yang bertanya,

“Siapakah mereka yang masuk Surga itu wahai Rasululloh?”

Beliau menjawab,

“Yaitu orang yang mengikuti sunnahku dan sunnah para shahabatku di atasnya.”

(HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya kitab Al-Iman, bab : Riwayat Tentang Terpecahnya Umat, Juz : V, hal. 26, no hadits. 2641, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak I/218-219, Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ wan-Nahyu ‘anhaa hal. 85, Al-Ajurriy dalam Asy-Syarii’ah I/127-128 no. 23-24, Al-’Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ hal. 659 no. 817, Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam As-Sunnah hal. 79 no. 60, Ibnul-Jauziy dalam Talbis-Ibliis melalui An-Nafiis fii Takhriji Ahaadiitsi Talbiis-Ibliis hal. 11 no. 12, dan Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushuulil I’tiqaad Ahlus Sunnah wal Jama’ah hal. 99-100 no. 147)

Diriwayatkan dari al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallohu ‘anhu bahwa ia berkata,

“Suatu hari Rasululloh shallalloohu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang membekas pada jiwa, yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati menjadi takut, maka seseorang berkata,

“Wahai Rasululloh! Seolah-olah ini adalah nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?”

Maka Rasululloh shallalloohu ‘alaihi wa ssalam bersabda,

“Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa ar Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”

(HR. Ahmad dalam Musnadnya IV/126-127, Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42, ad-Darimi I/44, Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 5, Hakim I/95-96, Baihaqi X/114)

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu ‘anhu berkata,

“Sesungguhnya ALLOH subhanahu wa ta’ala telah melihat kepada hati-hati para hambaNya dan mendapatkan hati Muhammad shallalloohu ‘alaihi wa sallam sebaik-baik hati para hamba lalu memilihnya untuk dirinya dan diutus sebagai pembawa risalahNya, kemudian melihat kepada hati-hati para hamba setelah hati Muhammad shallalloohu ‘alaihi wa sallam dan mendapatkan hati-hati para sahabat beliau sebaik-baik para hamba lalu menjadikan mereka sebagai pembantu NabiNya, mereka berperang di atas agamaNya, maka apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka dia baik di sisi ALLOH subhanahu wa ta’ala dan apa yang mereka pandang kejelekan maka dia adalah kejelekan di sisi ALLOH subhahanhu wa ta’ala.

(Diriwayatkan oleh Ahmad I/379, Ath-Thoyalisiiy dalam musnadnya hal. 23 dan Al-Khotib Al-Baghdadiy dalam Al-faqih wal Mutafaqqih I/166)

Itulah sejelas-jelas dalil bahwa pemahaman (manhaj) dan (ijma’ para sahabat adalah ma’shum dan hujjah.

Gambar para sahabat (7), hujjah adalah (4), sahabat adalah (4), aku tinggalkan 2 perkara (3), hadits saya tinggalkan dua (2), tidak akan tersesat slama lamanya kembali kepada qur\an dan sunnah (2), hadist nabi (2), aku tinggalkan di tengah-tengah kalian kitabullah (2), hadis apakah yg dimaksud itu sunnah (1), hujjah qs hr no (1)

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

1 Comment

Reply Mixkino
10:59 AM on August 16, 2018 
Telah mencakup pemahaman Salaf terhadap jalan ini. Memang tidak seorangpun merasa ragu bahwa barangsiapa berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah, berarti dia telah mendapatkan petunjuk yang lurus. Akan tetapi pemahaman manusia terhadap al-Kitab dan as-Sunnah ada yang benar dan ada yang keliru. Hal itu mengharuskan adanya rukun ketiga untuk menghilangkan perselisihan yang terjadi. Rukun ketiga itu adalah mengikatkan pemahaman khalaf dengan pemahaman salaf.